Harga Oil meningkat tajam. Bahkan mencapai 60% dalam 1 bulan terkahir.Lonjakan pada harga oil, bukan sebuah sinyal yang baik. Pada chart dibawah teman2 bisa melihat lonjakan harga telah menyebabkan breakout dari downtrend jangka panjang. Level harga saat ini saamd engan level harga di awal bear market 2022. Tepatnya pada saat perang Russia dan Ukraina dimulai di Maret 2022.
Uniknya kita ada di periode waktu yang sama (Maret 2026), yang kebetulan adalah tahun bear market. Sama dengan 2022.
Theses mengenai kita masih ada di bear market dan masih jauh dari bottom sepertinya benar. Kenapa?
Kenaikan Harga Minyak Selalu Mengawali Periode Resesi
Seperti yang ditunjukkan oleh grafik diatas, hampir semua resesi di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II didahului atau disertai oleh kenaikan tajam harga energi relatif terhadap tingkat harga secara keseluruhan dalam perekonomian. Oleh karena itu, guncangan harga minyak sering dipandang dengan kekhawatiran oleh para ekonom makro, pelaku pasar, dan para pembuat kebijakan publik. Tingginya tingkat kekhawatiran ini sebagian besar berasal dari pengalaman pada dekade 1970-an dan 1980-an.
Apabila Amerika Resesi, dampaknya buruk untuk aset yang bergantung dengan liquidity seperti Bitcoin.
Naiknya harga minyak, biasanya disebabkan oleh 2 hal. Yaitu”
- Supply Shock (Perang atau Embargo)
- Demand Shock (Ekonomi global booming). Untuk case yang kedua bagus untuk Bitcoin.
Emang Kenapa Kalau Harga Oil Naik?
Kalau ada oil shock, maka ada 2 hal yang bisa terjadi bersamaan. Yaitu:
- Inflasi naik
- Pertumbuhan ekonomi melambat
Berdasarkan pantauan pada FED Watch Tool, Pada 18 Maret nanti diperkirakan FED tidak akan menurunkan suku bunga. FED diperkirkaan tetap menahan suku bunga nya di 95.4%.
Yuk kita belajar dari sejarah.. hubungan antara oil. perang dan resesi… juga peran dari FED yang sangat menentukan kondisi ekonomi yang berikutnya.
Case 1: 1970 Oil Shock - The Great Inflation
Pada awal 1970-an, ekonomi dunia sangat bergantung pada minyak yang sebagian besar diproduksi oleh negara-negara Timur Tengah. Pada tahun 1973, terjadi Perang Yom Kippur antara Israel dan koalisi negara Arab seperti Mesir dan Suriah. Amerika Serikat dan beberapa negara Barat memberikan dukungan kepada Israel. Sebagai respons terhadap dukungan tersebut, negara-negara Arab produsen minyak yang tergabung dalam OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries) memutuskan untuk melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka juga mengurangi produksi minyak secara signifikan.
Akibat kebijakan ini, pasokan minyak dunia tiba-tiba berkurang. Harga minyak yang sebelumnya sekitar $3 per barel melonjak menjadi sekitar $12 per barel, atau naik hampir empat kali lipat dalam waktu singkat.
Lonjakan harga energi ini langsung memicu krisis ekonomi di banyak negara. Di Amerika Serikat, masyarakat menghadapi antrian panjang di pom bensin, pembatasan pembelian bensin, dan kenaikan tajam harga berbagai barang karena biaya transportasi dan produksi meningkat.
Kenaikan harga minyak ini menyebabkan kombinasi yang tidak biasa dalam ekonomi, yaitu inflasi tinggi sekaligus pertumbuhan ekonomi yang lemah, kondisi yang kemudian dikenal sebagai stagflation.
Inflasi melonjak hingga dua digit, sementara pengangguran juga meningkat. Situasi ini sangat sulit ditangani oleh bank sentral karena kebijakan untuk menurunkan inflasi biasanya justru memperlambat ekonomi.
Krisis energi tidak berhenti di situ. Pada 1979, terjadi Revolusi Iran yang menggulingkan Shah Iran. Mengakhiri dominasi kerajaan Persia di Iran.
Produksi minyak Iran turun drastis, sehingga pasar kembali khawatir akan kekurangan pasokan minyak. Hal ini memicu oil shock kedua, yang kembali mendorong harga minyak naik tajam dan memperburuk inflasi global.
Kemudian, apa yang FED lakukan?
Ketika harga minyak melonjak pada 1973–1974, ekonomi AS mulai melemah akibat naiknya biaya produksi naik dan jumlah pengangguran yang meningkat.
Naiknya harga minyak menyebabkan inflkasi, tapi Fed khawatir jika menaikkan suku bunga terlalu tinggi, ekonomi akan jatuh lebih dalam ke resesi. Karena itu Fed memilih:
menjaga suku bunga relatif rendah
menambah money supply
Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan pengangguran.
Akibatnya malah inflasi tak terkontrol
Federal Reserve sendiri menyebut periode ini sebagai periode the great inflation. Teman-teman bisa membaca essay nya disini https://www.federalreservehistory.org/essays/great-inflation
Pada 1979, Paul Volcker terpilih menjadi chairman FED dan membuat langkah strategis dengan emnaikan suku bunga secara signifikan hingga ke 20%! Amerika pada akhirnya tetap masuk ke dalam fase resesi hebat. Lebih detil teman2 juga bisa nonton modul sejarah uang Amerika.
Case 2: Gulf War 1990
Pada 2 Agustus 1990, Irak yang dipimpin Saddam Hussein menyerang dan menginvasi Kuwait. Alasannya antara lain:
- konflik utang setelah perang Iran–Irak
- tuduhan Kuwait memproduksi terlalu banyak minyak
- sengketa wilayah ladang minyak
Kuwait adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia, sehingga invasi ini langsung mengguncang pasar energi. Beberapa bulan setelah serangan Irak, harga oil melonjak tajam dari $17 menjadi $35-40 per barel. Harga naik 2x lipat dalam tempo waktu yang sangat cepat.
Pada saat yang bersamaan ekonomi Amerika mulai melemah dan terjadilah resesi di Amerika di tahun 1990 hingga 1991. Rapi pada Januari 1991, Amerika memulai operasi militer untuk mengusir Irak dari Kuwait dengan nama operasi: Dessert Storm. Operasi ini berlanhsung cepat dan dalam beberapa minggu Irak dipukul mundur. Tapi di 1990 an naiknya harga minyak tidak menimbulkan stagflasi besar seperti 1970 an.
FED menurunkan suku bunga secara bertahap sehingga tidak terjadi inflasi besar seperti di 1970 an.
Bagaimana dengan kondisi saat ini?
Masalahnya ada disini… di sebuah selat, yaitu Selat Hormuz. Meski banyak media mengatakan selat Hormuz ditutup, tapi selat hormuz tidak pernah benar-benar ditutup. Masalahnya perusahaan Asuransi tidak ada yang mau menjamin kapal-kapal yang akan berlayar melalui selat Hormuz. Kalaupun ada, biaya asuransi melonjak tajam, artinya harga oil juga akan meningkat tajam akibat kenaikan ongkos.
Trump sangat tidak suka dengan situasi ini. Karena Trump ingin inflasi turun. Trump mengcover dengan mengubungi US International Development Finance Corp dan menjamin dengan biaya asuransi sebesar $20B.
Trump juga menjamin keselamatan kapal-kapal dengan menjamin akan mengawal setiap kapal yang melewati selat Hormuz. Harga asuransi dikatakan mencapai 12x lipat lebih mahal meski ada jaminan dari Trump. Ini yang membuat harga minyak to the moon.
Bagaimana Dengan Bitcoin?
Theses saya tetap sama. Kita masih belum mencapai bottom bear market. Bahkan ada di periode Wave C. Periode yang paling menyakitkan dari sisi kita melihat nilai aset yang berkurang secara value. Season Logam Mulia is over, beralih ke season Black Gold & komoditas yang berkaitan dengan perang. Harga saham & index akan terkoreksi.
Harga oil yang naik juga akan menyebabkan miner capitulation. Mereka harus membayar biaya energi yang lebih tinggi sementara harga Bitcoin drop. Seperti yang direpresentasi dari Hash Ribbon Indicator ini.
Tapi ada yang perlu dicatat… bukankah kalau perang, selalu bagus untuk emas? Ya, tapi mungkin price is in already. Emas mungkin masih akan naik tapi lebih lambat.
Sebaliknya…
Pada saat ada perang, dan kondisi ekonomi lesu… bukannya buruk untuk Bitcoin? Ya betul, tapi ada potensi penurunannya juga melambat. Karena price is already in.
Mungkin, bisa saja ada insider yang tahu hal ini akan terjadi di Q1 2026, dan aksi jual sudah selesai dilakukan. Berikutnya kemungkinan hanya efek aksi jual dari retail yang ketakutan.
Harga Bitcoin emmang sudah bagus, yang mau DCA dengan fresh money sudah dapat diskon besar! tapi belum saatnya agresif. Belum saatnya pakai leverage. Belum saatnya pakai Bitcoin Back Loan. Kalau ngotot, resikonya kena likuidasi. BTC back loan hanya dipakai pada saat sinyal uptrend sudah terkomfirmasi, bukan ngasal kalau harga terlihat murah. Temen2 nonton jurnal yang sebelumnya ya…
9 Maret 2026